Kahar Muzakir: “Cerutu Bukan Rokok Untuk Bangsa Indonesia”

Kahar Muzakir: “Cerutu Bukan Rokok Untuk Bangsa Indonesia”

Usianya sudah 81 tahun, tapi pria kelahiran Banyuwangi ini selalu bersemangat jika berbicara tentang cerutu.

tirto.id – Cara berjalan Kahar Muzakir sudah pelan. Seperti mengukur betul setiap langkahnya agar energi tak terbuang sia-sia. Kalau berbicara, suaranya pelan, tapi tegas. Kalau sudah berkisah soal cerutu, ia selalu bersemangat.

Karier Kahar di dunia tembakau amat panjang. Sejak 1958 ia sudah berkecimpung di dunia yang membesarkan namanya itu. Setelah pensiun dari posisinya sebagai Direktur PTPN XXVII, Kahar melakoni karier sebagai konsultan perusahaan cerutu asal Swiss. Dari sana, Kahar kemudian diajak untuk membentuk perusahaan tembakau oleh beberapa rekannya. Nama perusahaan tembakau itu Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara (TTN), resmi berdiri pada 28 Juli 1990. Karena kesukaannya menikmati cerutu, Kahar pun membuat perusahaan cerutu yang kemudian diberi nama Boss Image Nusantara. Nama Boss Image lahir dari celetukan beberapa anak kecil dalam bahasa Madura saat melihat Kahar mengisap cerutu. “Puh, mak engak bos,” begitu kelakar mereka. Itu ungkapan yang kalau diartikan menjadi: “Kok seperti bos (mengisap cerutu segala).” Boss Image Nusantara (BIN) kini menjadi salah satu produsen cerutu terbesar di Jember, Jawa Timur. Produknya sudah diekspor. Dari Jepang hingga Turki. Kini mereka sedang dalam penjajakan ekspor ke Slovakia dan Siprus.

Mengobrol dengan Kahar seperti berbincang dengan buku yang selalu terbuka, apalagi jika bertanya soal tembakau. Dengan sabar, pria kelahiran 24 November 1936 ini akan menjelaskan hampir semua yang ia ketahui. Saya berkesempatan menemuinya pada akhir Juni lalu dan berbincang tentang tembakau Kuba, kesalahan pemerintah, hingga kenapa cerutu bukan rokok yang mudah dipasarkan di Indonesia. Sejak kapan intens dengan tembakau? Saya kerja di perusahaan swasta, namanya PT Pakuda. Lalu diubah menjadi PT Bumi Sari. Waktu itu komunisme sedang berkembang. Jadi perkebunan itu boleh dikata oleh Partai Komunis, dengan menempatkan orang-orangnya di perusahaan. Dari sana, saya melamar ke firma di Surabaya. Saya dites. Lulus, kemudian ditempatkan di Jelbuk, Jember. Bidangnya tembakau. Itu awal mulanya. Tahun 1958. Saya lulus tahun 1957, mustinya saya ditempatkan di perkebunan karet di Samarinda. Begitu masuk di tembakau, sudah digaji Rp1.350. Waktu itu kos masih Rp250. Itu kan banyak sekali. Tahun segitu di Jember sudah banyak Na-oogst? Waktu itu tahun 1957, pemerintah RI mengambil alih perkebunan dari tangan Belanda. Semua staf Belanda pulang ke negaranya. Ditinggal begitu saja. Enggak ada serah terima. Jadi pemerintah Indonesia butuh staf. Di sana saya persis masuk. Dan iya, waktu itu banyaknya Na-oogst. Jualnya pakai sistem lelang di Amsterdam dan Rotterdam. Kemudian karena pengambilalihan itu, maka pasar tembakau dipindah ke Bremen, Jerman. Ada alasan kenapa Bremen, bukan, misalkan Munich? Karena waktu itu respons terbesar dan tercepat ya di Jerman. Mereka menyediakan tempat, personel. Yang di kemudian hari jadi partner saya. Waktu itu jualnya dalam bentuk tembakau kering atau rajang? Iya, kering yang sudah disortir, diunting menurut klasifikasi ukuran. Jadi satu pak sudah ada grade-nya. Ada warnanya. Ada ukurannya. Panjang daun. Saya mempelajari itu, kemudian saya bawa standar grade Eropa itu ke Jember. Sampai sekarang standar itu dipakai untuk PTP.

Sejak zaman Belanda, penghasil Na-oogst di Indonesia ada tiga. Jember, Klaten, dan Deli Serdang. Tapi belakangan dapat kabar kalau produksi di Klaten dan Deli Serdang merosot jauh. Bukan menurun lagi, sudah hampir mati malahan. Kenapa dua daerah itu tidak bisa bertahan seperti Jember? Faktor orang (SDM) dan pilihan. Kalau di Deli, misalnya. Ada sawit, karet, juga kakao. Kalau Jember ini tidak ada pilihan untuk rakyat, ya tembakau itu. Kalau di Deli, kan, oleh PTPN. Jadi tidak ada kaitannya dengan rakyat.

Kahar menciptakan metode Tembakau Bawah Naungan pada 1984. Saat itu Kahar adalah Direktur PTPN XXVII. Tembau Besuki Na-oogst yang diproduksi dan dipakai untuk wrapper cerutu hasilnya tidak stabil. Kadang bagus, kadang buruk. Warnanya juga tidak seragam. Penyebabnya adalah iklim yang juga berganti-ganti. Waktu itu Kahar punya ide untuk menutupi daun tembakau dengan waring (kelambu, jaring). Karena itu sistem yang diciptakan kahar disebut bawah naungan. Untunglah, ide itu disambut oleh pengusaha cerutu Max Burger Steiner, orang nomor satu di perusahaan cerutu asal Swiss, Burger Soehne Ag Burg (BSB). Percobaan itu diberi jaminan oleh Max: apa pun hasilnya, akan dibeli. Lahan uji coba TBN pertama seluas 15 hektare. Lalu bagaimana? Saya baca beberapa referensi. Salah satunya, kalau tidak salah berjudul, How to Grow Under Sheet Tobacco. Saya juga membaca buku Can Tobacco Be Measured? Dari sana saya kemudian belajar. Awalnya waring yang saya pakai itu pakai bahan sembarang. Awalnya pakai anyaman daun palem. Belum 30 hari sudah ambrol. Kemudian saya impor waring dari Amerika, dari Pennsylvania. Saya coba lagi, dan waring itu tahan. Waring itu yang dipakai di Connecticut. Tahun 1986 saya pergi ke Connecticut. Saya lihat di sana bagaimana budidayanya, bagaimana pengolahan hasilnya. Kondisi tembakau bawah naungan itu, sinar matahari yang masuk itu hanya 70 persen. Jadi terhambat 30 persen. Kelembapan dalam itu naik 2 persen. Dengan sinar matahari yang berkurang dan kelembaban yang naik, daunnya jadi lebar. Maka nikotin jadi rendah. Begitu. Kebetulan, saat ini industri sedang mencari tembakau yang begitu (rendah nikotin). Mencari daun yang tipis, elastis, warnanya rata. Rasanya tidak terlalu berat.

Bagaimana gambaran sederhana industri cerutu dunia saat ini?

Mencari produk-produk murah. Itu yang membuat turmoil di dunia percerutuan. Seolah-olah sudah tidak jalan. Semua eksportir macet. Karena industri membanting harga. Itu tak mungkin diusahakan, apalagi bagi TBN, karena biaya produksinya tinggi. Di samping itu, pemerintah mendorong peningkatan hasil dari buruh tani. Makin tidak ketemu (harganya). Apa artinya, apakah permintaan akan cerutu dunia menurun atau apa? Karena perubahan selera mencerutu. Asalnya cerutu besar, menjadi cerutu kecil. Kenapa bisa berubah? Salah satunya perekonomian dunia. Cari uang lebih susah, makanya cari rokok atau cerutu yang lebih murah. Siapakah yang menguji coba rasa cerutu produksi BIN? Saya sendiri, dan saya punya Tim A dan Tim B. Saya selalu minta pendapat mereka. Atau saya coba cerutu itu, lalu saya kasih pendapat dan minta pendapat mereka. Cerutu Kuba yang kami racik rasanya sudah mendekati Cohiba. Ada yang spesial, Cigar Master. Bisa-bisanya saya aja sih kasih nama. Ada yang namanya Robusto. Corona. Half Corona. Kami punya sekitar 25 merek.

Selain tembakau Havana, apa saja jenis tembakau yang dipakai oleh cerutu BIN?

Kami memakai tembakau dari Amerika, yaitu tembakau Connecticut. Warna daunnya itu sesuai. Rasanya juga sesuai, bisa diteruskan. Bahkan belakangan yang sudah terpasarkan, tembakau rajangan. Cerutu kecil. Karena tembakau rajangan lebih mudah untuk cerutu kecil. Saya kasih merek Meru Betiri. Ada orang Jepang memberi nama Talama. Karena tembakaunya berasal dari Talang, Payakumbuh, Sumatera Barat. Ia suka taste-nya. Kami kerja sama, mereka membuat packaging sendiri.

Tujuan ekspor terbesar cerutu BIN saat ini?

Berubah-ubah, tidak tentu.

Bagaimana dengan ekspor? Apakah ada kesulitan ketika mengirim barang?

Oh jelas ada. Terutama di China. Mereka amat protektif dari produksi luar. Jadi harus mampu cari orang yang bisa masuk ke sana.

Ada jasa makelar?

Bukan makelar, sih. Tapi orang yang memang pedagang cerutu dunia, yang tahu lika-liku masuknya cerutu ini lewat mana. Di setiap negara, pasti selalu ada pedagang cerutu. Biasanya mereka blusukan. Tempat tinggalnya ada yang di Hong Kong. Jadi harus cari.

Di Jember ada berapa pabrik cerutu selain BIN?

Ada Argopuro dengan MDR

Bobbin?

Itu termasuk PTP. Yang swasta yang 3 itu.

Sekarang industri berbasis tembakau, mulai rokok hingga cerutu, diserang dari segi kesehatan. Bagaimana menurut Anda?

Salah itu. Pemerintah membodohi rakyatnya sendiri. Membodohi bagaimana? Ya itu, merokok membunuhmu. Mana? Wong saya sampe 81 merokok. Lah iya, itu membodohi. Itu ndak boleh pemerintah begitu. Tapi apakah industri cerutu terpengaruh? Tidak. Orang perokok itu enggak ambil pusing sama apa yang dibilang pemerintah. Mau tahu buktinya? Dulu pernah ditetapkan standar jumlah produksi rokok sekitar 260 miliar batang. Kampanye pemerintah soal ‘rokok itu membunuhmu’ sudah lebih tajam waktu itu. Tapi sekarang malah naik terus. Sekarang mungkin ada di angka 400 miliar batang. Padahal industri rokok kecil sudah mati semua. Di Jawa Timur saja tinggal 340. Banyak yang sudah tidak tahan. Cukai dinaikkan. Kampanye antirokok lebih gencar. Tidak boleh merokok di mana-mana. Jadinya malah mematikan yang kecil. Anda adalah satu dari sedikit sekali ahli cerutu di Indonesia. Apakah generasi selanjutnya bakal ada? Sebenarnya sudah dimulai. Tapi dilematis juga. Dilematis bagaimana? Jadi gini. Pemerintah ini sedang menghalangi orang untuk merokok. Lah kalau begitu, apa yang saya ajarkan (tentang cerutu dan budidaya tembakau) bertentangan. Jadi ya mending tidak usah ada yang mengajari. Belajar saja sendiri. Merokok sendiri. Jadi tidak ada yang disalahkan. Tapi, di Indonesia rokok tadi sekitar 260–300 miliar batang, kalau data soal produksi cerutu per tahun? Enggak ada datanya. Cerutu itu bukan rokok untuk bangsa Indonesia. Sebab itu bawaan dari kolonial. Jadi untuk mendorong produksi cerutu itu agak sulit. Karena medianya sedikit.

Baca selengkapnya di Tirto.id dengan judul “”Cerutu Bukan Rokok Untuk Bangsa Indonesia””, https://tirto.id/cerutu-bukan-rokok-untuk-bangsa-indonesia-csZL